Riset baru tunjukkan perubahan iklim berdampak semakin parah bagi kesehatan

Wednesday, Dec 16, 2020, 09:08 AM | Source: The Conversation

Celia McMichael, Ilan Kelman, Shouro Dasgupta, Sonja Ayeb-Karlsson

Shutterstock

Laporan terbaru dari 120 peneliti menyatakan bahwa perubahan iklim memiliki dampak semakin parah bagi kesehatan di seluruh negara.

Laporan tahunan The Lancet Countdown on Health and Climate Change menyajikan data terbaru tentang dampak kesehatan akibat iklim yang berubah.

Salah satu hasil dari penelitian adalah ada 296.000 kematian dini berkaitan dengan panas pada usia lebih dari 65 tahun di 2018 (ini naik 54% selama 2 dekade belakangan). Lebih lanjut, potensi panen pangan global menurun 1,8-5,6% antara tahun 1981 dan 2019.

Kami adalah bagian dari sub-kelompok kerja The Lancet Countdown yang fokus padamigrasi manusia di dunia yang semakin panas.

Kami memperkirakan, berdasarkan data populasi saat ini, 145 juta orang akan berpotensi menghadapi banjir dengan muka air laut global naik satu meter. Jumlah ini akan bertambah menjadi 565 juta orang dengan kenaikan muka air laut 5 meter.


Read more: Coronavirus is a wake-up call: our war with the environment is leading to pandemics


Konsekuensi perubahan iklim bagi kesehatan akan memburuk apabila tidak ada tindakan apa-apa.

Upaya global yang terkoordinasi untuk mengatasi COVID-19 dan perubahan iklim menjadi penting, dan ini bisa menjadi kemenangan berlipat : kesehatan publik yang baik, ekonomi berkelanjutan, dan perlindungan lingkungan.

Kekeringan, kebakaran dan panas ekstrim

Laporan tahun ini memasukkan penelitian dari beragam bidang, termasuk sains iklim, geografi, ekonomi dan kesehatan publik.

Penelitian ini berfokus kepada 43 indikator global, seperti perubahan geografi menyebarkan penyakit menular, keuntungan kesehatan atas diet rendah karbon, harga karbon net, migrasi iklim, dan kematian terkait dengan panas.

The Lancet Countdown on Health and Climate Change: 2020 report

Lima tahun terpanas sudah terjadi sejak tahun 2015, dan 2020 akan menjadi tahun pertama atau kedua terpanas.

Lebih lanjut, laporan ini juga menemukan bahwa kejadian panas ekstrim akan meningkat pada setiap kawasan di dunia dan berdampak kepada manula, terutama yang berada di Jepang, India bagian utara, Cina bagian timur dan Eropa bagian tengah.

Hal ini juga akan menjadi masalah besar bagi mereka yang sudah memiliki kondisi kesehatan tertentu dan pekerja di lapangan seperti di sektor pertanian dan konstruksi.


Read more: The world endured 2 extra heatwave days per decade since 1950 – but the worst is yet to come


Meski kematian terkait panas ekstrim tidak berhubungan langsung dengan perubahan iklim, namun kenaikan suhu dan kelembaban bisa berarti semakin banyak kematian dini terkait cuaca panas.

Perubahan iklim juga merupakan faktor penting pada kekeringan. Laporan menunjukkan bahwa pada tahun 2019, kekeringan berlebihan mempengaruhi wilayah dua kali lebih luas di seluruh, bila dibandingkan dengan baseline tahun 1950-2005.

Kekeringan dan kesehatan saling terkait. Kekeringan akan berujung kepada berkurangnya suplai air minum, ternak, dan produktivitas pangan, serta kenaikan risiko kebakaran.

Penelitian dari Australia awal tahun ini juga mengkonfirmasi bahwa kesehatan mental akan berpengaruh.

Studi ini melihat dari menurunnya kesehatan mental dari para petani yang mengalami dampak kekeringan di Basin Murray-Daring selama 14 tahun.

Asap dan api di hutan eukaliptus
Lebih dari 445 kematian terkait asap dari kebakaran Black Summer. Shutterstock

Lebih lanjut, laporan Lancet ini juga menemukan bahwa antara 2015 dan 2019, angka kematian orang yang terpapar dengan kebakaran hutan meningkat di 128 negara, dibandingkan pada baseline 2001-2004.


Read more: Climate change is bringing a new world of bushfires


Perubahan iklim memperburuk faktor risiko untuk kebakaran hutan terjadi lebih sering dan besar.

Kita hanya perlu melihat kebakaran hutan di Australia, musim panas lalu, untuk mendapat gambaran nyata. Angka orang yang terpapar oleh kebakaran hutan menjadi besar akibat pemukiman meluas dan minimnya upaya penurunan risiko.

Kenaikan muka laut, migrasi manusia dan kesehatan

Ketika dunia menghangat dan muka laut naik, jutaan orang akan terdampak akibat perubahan pesisir, termasuk banjir dan erosi.

Kenaikan muka laut memiliki konsekuensi langsung dan tidak langsung bagi kesehatan manusia. Di beberapa tempat, kualitas air dan tanah dan suplai akan terganggu akibat adanya intrusi air laut.

Banjir dan arus laut akan merusak infrastruktur, termasuk air minum dan layanan sanitasi. Selain itu, ekologi vektor penyakit juga berubah, seperti densitas nyamuk meningkat di habitat pesisir, yang berpotensi menyebarkan penyakit menular seperti dengue atau malaria.

Meski demikian, orang dan komunitas bisa saja pindah dari tempat itu sebagai upaya adaptasi. Sebagai contoh, setidaknya 4 komunitas telah pindah akibat perubahan pesisir di Fiji.

Pemerintah Fiji telah menyatakan bahwa rencana relokasi merupakan pilihan terakhir, ketika sudah tidak ada lagi pilihan adaptasi.


Read more: Climate change forced these Fijian communities to move – and with 80 more at risk, here's what they learned


Relokasi juga bisa berujung kepada masalah kesehatan.

Ini termasuk konsekuensi kesehatan fisik akibat mengubah diet, karena kegiatan melaut dan pertanian yang mungkin terganggu.

Ada juga persoalan dampak kesehatan mental bagi orang yang kehilangan keterikatan dan koneksi mereka dengan tempat mereka berada.

Namun, beberapa kali, reaksi migrasi terhadap perubahan iklim bisa mendatangkan keuntungan kesehatan.

Berpindah dari pesisir pantai yang rentan akan mengurangi paparan terhadap dampak, seperti banjir, mendorong untuk mencari mata pencarian dan gaya hidup yang lebih sehat, dan meningkatkan akses bagi layanan kesehatan.

Estimasi kami atas jumlah orang yang berpotensi menghadapi banjir berdasarkan proyeksi rata-rata kenaikan muka laut global dan data populasi terkini.

Pada skenario emisi tinggi dengan suhu 4.5℃, lautan bisa naik hingga 1 meter pada tahun 2100, relatif terhadap tahun 1986-2005.

Ini akan berdampak kepada 145 juta orang mengalami banjir.

Melelehnya Lapisan Es Antarktika Barat akan menyebabkan kenaikan muka laut 5 hingga 6 meter. Berdasarkan skenario ekstrim ini, 565 juta orang akan mengalami banjir.


Read more: How many people will migrate due to rising sea levels? Why our best guesses aren't good enough


Meski demikian, penting juga untuk menyadari bahwa ketidakpastian membatasi kemampuan kami untuk memprediksi jumlah migrasi akibat kenaikan muka laut.

Ketidakpastian ini termasuk faktor lingkungan dan demografi di masa depan, serta respons adaptasi (dan maladaptasi), seperti tinggal bersama air atau benteng pantai.

Apakah ada kabar baik?

Laporan 2020 Lancet Countdown ini menuliskan beberapa perkembangan dengan adanya sektor dan negara-negara yang mengambil langkah tegas dalam merespon perubahan iklim.

Kita melihat, misalnya, keuntungan kesehatan yang muncul dari peralihan ke energi bersih. Kematian dari polusi udara terkait dengan pembangkit listrik tenaga batubara menurun dari 440.000 pada tahun 2015 menjadi 400.000 di tahun 2018, meski ada kenaikan populasi.

Namun, masih banyak hal yang harus dilakukan: kita perlu menurunkan emisi gas rumah kaca, meningkatan penyerapan gas rumah kaca dan proaktif dalam aksi adaptasi.

Meski demikian, upaya global untuk perubahan iklim masih jauh dari harapan saat Perjanjian Paris dibuat 5 tahun lalu.

Kita tidak bisa hanya fokus kepada pandemi dan mengorbankan aksi perubahan iklim.

Apabila respons terhadap dampak ekonomi akibat COVID-19 bisa sejalan dengan respons terhadap perubahan iklim, kita bisa melihat keuntungan berlipat bagi kesehatan manusia, dengan udara bersih, diet lebih sehat dan kota-kota yang lebih nyaman dihuni.

The Conversation

Celia McMichael adalah dosen senior School of Geography, University of Melbourne. Celia sedang berkolaborasi dengan kolega nasional, internasional, dan lembaga partner untuk dua hibah dari Australian Research Council Grants, dengan fokus kepada perubahan iklim, mobilitas manusia di negara pulau-pulau kecil. Ia menulis the Lancet Countdown on Health and Climate Change, sebagai bagian dari kelompok kerja yang membahas perubahan iklim, migrasi, dan kesehatan, yang juga termasuk Prof Ilan Kelman (University College London, Inggris), Dr Shouro Dasgupta (Università Ca' Foscari Venezia, Italia), dan Dr Sonja Ayeb-Karlsson (United Nations University Institute for Environment and Human Security, Jerman). https://orcid.org/0000-0002-4572-602X

Ilan Kelman menerima dana dari lembaga riset di Inggris dan Norwegia, juga Wellcome Trust (yang mendanai proyek Lancet Countdown yang disebutkan di artikel ini) dan dana UCL internal. Ilan juga merupakan Profesor II di University of Agder, Norwegia dan co-direktur Risk RED (Risk Reduction Education for Disasters).

Sonja Ayeb-Karlsson bekerja untuk UNU-EHS. Sonja juga terafiliasi dengan University of Sussex, bagian dari WG1 dari Lancet Countdown, dan anggota board editorial untuk Climate and Development, UCL Open: Environment and SEI WeAdapt.

Shouro Dasgupta does not work for, consult, own shares in or receive funding from any company or organization that would benefit from this article, and has disclosed no relevant affiliations beyond their academic appointment.

University of Melbourne Researchers